BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Indonesia
merupakan pembudidaya tanaman kakao paling luas dan termasuk penghasil kakao
terbesar ketiga setelah Ivory Coast dan Ghana. Daun dan bunga kakao berkhasiat
sebagai antiseptik, antidiuretik, ekbolik (meningkatkan rangsangan kontraksi
uterus), dan emmenagogue (meningkatkan aliran darah haid). Biji kakao
berpotensi sebagai bahan antioksidan alami, seperti mempunyai kemampuan untuk
memodulasi sistem immun, efek kemopreventif untuk pencegahan penyakit kanker
dan jantung coroner. Sedangkan buah kakao berkhasiat sebagai antikanker,
antioksidan, dan antibakteri (Wahyudi, 2008).
Biji kakao memiliki kandungan fenolik yang tinggi
yaitu antara 1218% (berat kering) pada biji yang tidak difermentasi. Sedangkan, kandungan polifenol dalam cokelat sebagai produk kakao yang paling banyak dikonsumsi,
secara signifikan jumlahnya lebih rendah yaitu 1,7-8,4 mg/g pada “dark
chocolate” dan lebih rendah lagi pada susu coklat sekitar 0,7-5 mg/g. Total
fenolik pada biji kakao mentah adalah monomer flavanol (epikatekhin dan
katekhin) dan oligomer procyanidin (dimer hingga decamer). Kakao mengandung
katekhin (kelompok senyawa flavan-3-ol) pada konsentrasi rata-rata 0,535 mg/g
atau 4 kali lipat dari kandungan pada teh (139 mg/L). Hal inilah yang
melatarbelakangi melakukan percobaan ini.
Metode yang digunakan dalam praktikm ini yaitu metode
maserasi. Metode maserasi merupakan metode ekstraksi dengan cara merendam bahan
di dalam pelarut tanpa melibatkan panas (Sarker, 2005).
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana
cara isolasi fenolat dari biji
kakao?
1.3 Tujuan Percobaan
Mempelajari cara isolasi fenolat dari biji kakao.
BAB II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1
Kakao(Theobroma cacao L)
Kakao (Theobroma
cacao L) adalah
nama biologis yang diberikan pada pohon kakao oleh Linnaeus pada tahun 1753. Tempat
alamiah dari genus Theobroma adalah di bagian hutan tropis dengan banyak curah
hujan, tingkat kelembaban tinggi,
dan teduh. Dalam kondisi seperti ini Theobroma
cacao jarang berbuah dan hanya
sedikit menghasilkan biji (Spillane, 1995).
Menurut Susanto (1994), jenis yang
paling banyak ditanam untuk produksi
coklat hanya 3 jenis, yaitu :
1. Jenis Criollo
Jenis Criollo terdiri dari Criollo
Amerika Tengah dan Criollo Amerika Selatan. Jenis ini menghasilkan biji coklat
yang mutunya sangat baik dan dikenal sebagai coklat mulia. Buahnya berwarna
merah atau hijau, kulit buahnya tipis dan berbintil–bintil kasar dan lunak. Biji
buahnya berbentuk bulat telur dan berukuran besar dengan kotiledon berwarna
putih pada waktu basah.
2. Jenis Forastero
Jenis ini menghasilkan biji coklat
yang memiliki mutu sedang atau dikenal juga sebagai Ordinary cocoa. Buahnya berwarna
hijau, kulitnya tebal, biji buahnya tipis atau gepeng dan kotiledon berwarna
ungu pada waktu basah.
3. Jenis Trinitario
Merupakan
campuran dari jenis Criollo dengan jenis Forastero. Coklat Trinitario
menghasilkan biji yang termasuk fine flavour cocoa dan ada yang termasuk bulk
cocoa. Buahnya berwarna hijau atau merah dan bentuknya bermacam – macam. Biji
buahnya juga bermacam – macam dengan kotiledon berwarna ungu muda sampai ungu
tua pada waktu basah.
Menurut Poedjiwidodo (1996), klasifikasi tanaman
kakao sebagai berikut :
Gambar 2.1 kakao
(Theobroma
cacao L)
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Anak divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Bangsa : Malvales
Famili : Sterculiaceae
Genus : Theobroma
Spesies : Theobroma cacao, L.
2.2 Fenolat
Fenolat adalah sekelompok senyawa organik yang gugus hidroksilnya (-OH)
langsung melekat pada karbon cincin benzene. Aktivator kuat dalam reaksi subtitusi aromatik
elektrofilik terletak pada gugus –OH nya, karena ikatan karbon sp2 lebih kuat dari pada ikatan karbon
sp3
maka ikatan C-O dalam fenol tidak mudah diputuskan. Fenol sendiri bertahan
terhadap oksidasi karena pembentukan suatu gugus karbonil mengakibatkan dikorbankannya
penstabilan aromatik.
Fenol umumnya diberi nama menurut senyawa induknya. Kimiawi fenol telah
diketahui lama sebelum pengetahuan kimia organik, sehingga banyak fenol mempunyai
nama-nama umum. Metifenol misalnya, dikenal sebagai kresol (berasal dari
kreosot, terdiri dari batu bara atau kayu yang mengandung zat ini. Berlawanan
dengan alkohol,
fenol-fenol adalah asam yang labih kuat dari pada air. Fenol sendiri 10.000 kali
lebih asam dari pada air. Hal utama mengapa fenol
lebih asam dibandingkan alkohol dan air
adalah karena ion fenoksida dimantapkan
oleh resonansi. Muatan negative pada
hidroksida atau alkoksida tetap tinggal pada atom oksigen, sedangkanpada ion
fenoksida muatan ini dapat didelokalisasi pada posisi-posisi orto dan para pada cincin benzena melalui resonansi (Hart,1983).
2.3 Etanol
Etanol atau
biasa juga disebut etil alkohol adalah sejenis caira yang mudah menguap, mudah
terbakar, tidak berwarna, dan merupakan alkohol yang sering digunakan dalam
kehidupan sehari-hari. Senyawa ini merupakan psiko aktif (obat) dan dapat
ditemukan pada minuman beralkohol dan termometer modern. Etanol memiliki berat
molekul 46,1 g/mol dan titik didih 78,3 oC. Etanol membeku pada suhu
-117,3 oC, densitas 0,789 g/cm3 pada suhu 20 oC.
Nilai kalornya 7077 kal/g (Wahyuni, 2012).
2.4 Maserasi dan Fraksinasi
Maserasi
merupakan metode ekstraksi dengan cara merendam bahan di dalam pelarut tanpa
melibatkan panas. Cara penyarian dengan maserasi sangat sederhana, namun
membutuhkan waktu yang lama. Remaserasi berarti dilakukan pengulangan
penambahan pelarut setelah dilakukan penyarian maserat yang pertama, dan
seterusnya. Fraksinasi dilakukan dengan menggunakan partisi cair- cair. Dasar
dari pemisahan dengan cara partisi adalah perbedaan kelarutan. Syarat yang
harus dipenuhi untuk melakukan partisi yaitu digunakan dua pelarut yang tidak
saling bercampur. Komponen dalam ekstrak akan terdistribusi dalam pelarut yang
digunakan berdasarkan koefisien partisinya (Sarker, 2005).
Ekstraksi adalah suatu metode atau cara untuk memindahkan atau mengeluarkan
sebuah senyawa atau zat dari suatu medium
(fase) ke medium (fase)
yang lain atau suatu proses untuk mendapatkan
suatu zat dengan menggunakan solvent dari zat tersebut. Faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi dari ekstraksi adalah pengadukan, jenis solvent, waktu
perendaman, ukuran partikel,
dan lama
ekstraksi (Sudarmadji,
1996).
2.5
Spektrofotometer
Spektrofotometer
merupakan alat yang digunakan untuk mengukur absorbansi dengan cara melewatkan
cahaya dengan panjang gelombang tertentu pada suatu obyek kaca atau kuarsa yang
disebut kuvet. Sebagian dari cahaya tersebut akan diserap dan sisanya akan
dilewatkan. Nilai absorbansi dari cahaya yang dilewatkan akan sebanding dengan
konsentrasi larutan di dalam kuvet (Cairns, 2009).
Spektrofotometri
menyiratkan pengukuran jauhnya penyerapan energi cahaya oleh suatu sistem kimia
itu sebagai suatu fungsi dari panjang gelombang radiasi, demikian pula
pengukuran penyerapan yang menyendiri pada suatu panjang gelombang tertentu (Wahyudi, 2008).
Gambar
2.2 Spektrofotometer (Wahyudi,
2008).
Menurut Wahyudi (2008), spektrofotometer terdiri dari 4
bagian penting yaitu :
a.
Sumber Cahaya
Sebagai
sumber cahaya pada spektrofotometer, haruslah memiliki pancaran radiasi yang
stabil dan intensitasnya tinggi. Sumber energi cahaya yang biasa untuk daerah
tampak, ultraviolet dekat, dan inframerah dekat adalah sebuah lampu pijar
dengan kawat rambut terbuat dari wolfram (tungsten). Lampu ini mirip dengan
bola lampu pijar biasa, daerah panjang gelombang (l ) adalah 350 – 2200
nanometer (nm).
b.
Monokromator
Monokromator
adalah alat yang berfungsi untuk menguraikan cahaya polikromatis menjadi
beberapa komponen panjang gelombang tertentu (monokromatis) yang bebeda
(terdispersi).
c.
Cuvet
Cuvet
spektrofotometer adalah suatu alat yang digunakan sebagai tempat contoh atau
cuplikan yang akan dianalisis. Cuvet biasanya terbuat dari kwars,
plexigalass, kaca, plastic dengan bentuk tabung empat persegi panjang 1 x 1 cm
dan tinggi 5 cm. Pada pengukuran di daerah UV dipakai cuvet kwarsa atau
plexiglass, sedangkan cuvet dari kaca tidak dapat dipakai sebab kaca
mengabsorbsi sinar UV. Semua macam cuvet dapat dipakai untuk pengukuran di
daerah sinar tampak (visible).
d.
Detektor
Peranan
detektor penerima adalah memberikan respon terhadap cahaya pada berbagai
panjang gelombang. Detektor akan mengubah cahaya menjadi sinyal listrik yang
selanjutnya akan ditampilkan oleh penampil data dalam bentuk jarum penunjuk
atau angka digital.
BAB
III
METODE PERCOBAAN
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum ini
dilaksanakan pada hari Jumat, 28
Maret
2018, pukul 15.00 Wita sampai selesai. Bertempat di
Laboratorium Kimia Bahan Alam, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Universitas Tadulako, Palu.
3.2 Bahan dan Alat
Bahan yang
digunakan pada percobaan ini adalah buffer
fosfat pH 12,
etanol 96%, asam fosfat 1:9, NH4OH 0,5 N,
kakao, akuades, padatan fenol, kertas saring, aluminium foil, dan indikator MO.
Alat
yang digunakan pada percobaan ini yaitu,
neraca analitik, sendok zat, botol semprot, tabung reaksi, rak tabung,
sentrifuge, spektrofotometer 20, corong kaca, labu ukur 100 ml, gelas ukur 100
ml dan 50 ml, Erlenmeyer 50 ml dan 100 ml, stopwatch, shaker erlenmeyer, dan kuvet.
3.3 Prosedur Kerja
3.3.1
Ekstraksi
fenolat dari kulit ari biji kakao
Memasukkan 5 gram kulit ari biji kakao ke dalam
Erlenmeyer 250 mL, kemudian menambahkannya dengan 65 mL etanol 95%. Mengocok campuran di
atas mesin kocok agitasi 250 rpm selama 2 jam. Menyaring campuran, menampung
filtratnya, kemudian mengukur volumenya dan menentukan kandungan fenolatnya.
3.3.2
Ekstraksi
fenolat dari daging biji kakao
Memasukkan 15 gram daging biji kakao ke dalam
Erlenmeyer 250 mL, kemudian menambahkannya dengan 65 mL etanol 95%. Mengocok campuran di
atas mesin kocok agitasi 250 rpm selama 2 jam. Menyaring campuran, menampung
filtratnya, kemudian mengukur volumenya dan menentukan kandungan fenolatnya.
3.3.3
Penentuan
kadar fenolat (pembuatan kurva baku)
Mengambil 20 mL larutan standar fenol (5, 10, 15, 20, dan 25 ppm) dan memasukkan
ke dalam Erlenmyer. selanjutnya memanaskan dalam penangas air selama 5 menit,
lalu menambahkan 2 tetes indikator metal
orange (MO) sampai terbentuk warna kuning. Selanjutnya menambahkan larutan
dengan 3 tetes asam fosfat 1:9 sampai terbentuk warna merah jingga.
Mendinginkan larutan kemudian menambahkan 1,2 mL NH4OH 0,5 N,
kemudian mengatur pH larutan hingga 7,9 ± 0,1 dengan buffer fosfat (pH=12),
selanjutnya mengukur serapannya pada panjang gelombang 460 nm. Menentukan kadar
fenolat menggunakan persamaan berikut :
Kadar fenolat (%) =
x
100%
Keterangan
: X = Konsentrasi fenolat
BAB
IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
4.1.1
Ekstraksi Fenolat dari Kulit Ari Biji Kakao
No.
|
Perlakuan
|
Hasil Pengamatan
|
1.
|
5
gr kulit ari biji kakao
+ 65 mL etanol 96% .
|
Warna larutan coklat tua
|
2.
|
shaker
selama 2 jam.
|
Warna larutan coklat muda.
|
3.
|
campuran disaring dan dihitung volumenya
|
Warnalarutancoklat muda dan volumenya 55 mL
|
4.
|
ekstrak dipanaskan selama 5 menit.
|
Warna larutan orange muda.
|
5.
|
ditambahkan 2 tetes indikator MO.
|
Warna larutan kuning.
|
6.
|
ditambahkan 2 tetes asamfosfat
1 : 9.
|
Warna larutan merah jingga
|
7.
|
ditambahkan 1,2 ml NH4OH 0,5 N.
|
Warna larutan kuning pucat dengan pH larutan 7
|
8.
|
Diukur absorbansi pada
460 nm.
|
Panjang gelombang = 1,370.
|
4.1.2 Ekstraksi Fenolat
dari Daging Biji Kakao
No.
|
Perlakuan
|
Hasil Pengamatan
|
1.
|
15 gr daging biji kakao
+ 65 mL etanol 96% .
|
Warna larutan coklat tua.
|
2.
|
shaker
selama 2 jam.
|
Warna larutan merah bata.
|
3.
|
campuran disaring dan dihitung volumenya.
|
Warnalarutanmerah anggur dan volumenya 46 mL.
|
4.
|
ekstrak dipanaskanselama 5 menit.
|
Warna larutan merah anggur.
|
5.
|
ditambahkan 2 tetes indikator MO.
|
Warnalarutan merah bata.
|
6.
|
ditambahkan 3 tetes asamfosfat
1 : 9
|
Warnalarutan coklat pekat
|
7.
|
ditambahkan 1,2 ml NH4OH 0,5 N.
|
Warna larutan merah anggur dengan pH larutan 7.
|
8.
|
diukurabsorbansipada 460 nm.
|
Panjang gelombang = 1,927.
|
4.1.3 Penentuan Kadar Fenolat (kurva baku)
No.
|
Perlakuan
|
Hasil Pengamatan
|
1.
|
Dibuat larutan standar fenol 5,10, 15, 20, dan 25 ppm
dari larutan standar 500 ppm.
|
5 ppm = 0,5 mL
10 ppm = 1 mL
15 ppm = 1,5 mL
20 ppm = 2 mL
25 ppm = 2,5 mL
|
2.
|
Masing-masing larutan
dipanaskan 5 menit + 2 tetes indikator MO.
|
Larutan berwarna kuning.
|
3.
|
Masing-masing larutan ditambahkan asam fosfat 1 : 9 3
tetes.
|
Larutan berwarna merah jingga.
|
4.
|
Masing-masing larutan ditambahkan 1,2 ml NH4OH 0,5 N
|
Warna larutan kuning pucat dengan pH larutan 7.
|
5.
|
Masing-masing
larutan diukur nilai absorbansi pada 460 nm.
|
5 ppm = 0,085
10 ppm = 0,077
15 ppm = 0,071
20 ppm = 0,067
25 ppm = 0,068
|
4.2 Analisi Data
4.2.1 Kulit
ari biji kakao
y
= 0,0009x + 0,0868
x
=
x
=
x
= 1425,7778
Kadar
fenolat (%) =
x
100 %
=
x
100 %
=
31,3671%
4.2.2
Daging biji kakao
y = 0,0009x +
0,0868
x =
x =
x = 2044,6667
Kadar fenolat (%) =
x
100 %
=
x
100 %
=
12,5406%
4.3 Pembahasaan
Kakao
(Theobroma cacao L) adalah nama biologis yang diberikan pada pohon kakao oleh
Linnaeus pada tahun 1753. Tempat alamiah dari genus Theobroma adalah di bagian
hutan tropis dengan banyak curah hujan, tingkat kelembaban tinggi, dan teduh.
Dalam kondisi seperti ini Theobroma cacao jarang berbuah dan hanya sedikit
menghasilkan biji (Spillane, 1995).
Dalam isolasi fenolat dari biji
kakao ini, metode yang digunakan adalah metode maserasi dengan pengocokan. Menurut
Sarker (2005) maserasi merupakan
proses perendaman sampel menggunakan pelarut organik pada temperatur ruangan.
Proses ini sangat menguntungkan dalam isolasi
senyawa bahan alam karena dengan perendaman sampel tumbuhan, akan terjadi
pemecahan dinding dan membran sel akibat perbedaan tekanan antara di dalam dan
di luar sel, sehingga metabolit sekunder
yang ada dalam sitoplasma akan terlarut dalam pelarut organik dan ekstraksi
senyawa akan sempurna karena dapat diatur lama perendaman yang
dilakukan.Pemilihan pelarut untuk proses maserasi akan memberikan efektivitas
yang tinggi dengan memperhatikan kelarutan senyawa bahan alam dalam pelarut
tersebut. Secara umum, pelarut etanol merupakan pelarut yang banyak digunakan
dalam proses isolasi senyawa organik bahan alam karena dapat melarutkan
sebagian besar golongan metabolit sekunder, salah satunya adalah fenolat ini.
Biji
kakao yang
digunakan dalam bentuk bubuk karena semakin kecil permukaannya
(sampel) maka akan semakin cepat larut dan bereaksi dengan pelarutnya. Selanjutnya pelarut yang digunakan yaitu etanol. Penggunaan etanol
sebagai pelarut dikarenakan pelarut etanol bersifat semi
polar, sehingga dapat mencari senyawa yang bersifat semi polar dan mampu
mencari sebagian besar kandungan kimia dari biji kakao. Selain itu, etanol
memiliki viskositas yang cukup baik. Dengan konsistensi tersebut, etanol
merupakan pelarut yang relatif tidak toksik. Etanol 96 % yang bersifat semi polar
dipilih untuk mencari zat aktif yang bersifat semi polar juga yang dalam hal
ini adalah fenolat dari biji kakao (Pedriclli, 2001).
Pengocokan dengan menggunakan mesin
kocok agitasi 250 rpm selama 2 jam bertujuan untuk melarutkan bubuk biji kakao dengan pelarut
dimana pada pengocokkan ini terjadi tumbukan antara partikel pereaksi sehingga
mempercepat laju reaksi pengekstrakkan fenolat dari biji kakao. Menurut
Abdullah (1982), pengocokan selama 2 jam dengan 250 rpm dapat melarutkan
senyawa fenolat pada biji kakao.
Selanjutrnya,
larutan tersebut disaring untuk diambil filtratnya. Filtrate ini
adalah
ekstrak dari fenolat. Pada kulit ari biji kakao berwarna
coklat muda
dengan
volume ekstraksinya 55
mL dan pada daging biji
kakao berwarna merah anggur dengan volume ekstraksinya 46 mL. Kemudian
ekstrak fenolat dipanaskan
untuk menguapkan etanol. Ekstrak fenolat ditambahkan dengan
indikator metil orange (MO) agar
warna larutan menjadi kuning. Warna kuning ini menandakan bahwa
ekstrak tersebut bersifat asam.
Namun pada daging biji kakao warnanya bukan kuning melainkan berwarna merah
bata, hal ini mungkin karena kurangnya ketelitian saat penambahan bahan-bahan.
Selanjutnya ditambahkan
asam fosfat 1 : 9 sampai terbentuk warna merah jingga dari hasil percobaan hanya kulit ari biji kakao yang
berwarna merah jingga yang menandakan larutan tersebut positif mengandung
senyawa fenolat. Untuk meningkatkan nilai Ph larutanm maka ditambahkan larutan NH4OH. Dari perlakuan tersebut diperoleh larutan
berwarna kuning pucat,
ini berarti bahwa larutan tersebut positif mengandung senyawa fenolat. Dari
tabel grafik kurva baku yang di dapat dapat di simpulkan bahwa absorben dan kosentrasi dari larutan
berbanding lurus.
Selanjutnya mengukur absorbansi dari ekstrak fenolat
yang diperoleh dengan menggunakan spektronik 20 pada panjang gelombang 460 nm
dengan etanol sebagai blanko. Etanol digunakan sebagai larutan blanko karena pelarut yang digunakan
untuk mengekstrak daging dan kulit ari biji kakao yaitu etanol. Prinsip dari
alat spektronik 20 yaitu
alat ini akan
mengukur absorbansi dari
larutan yang berwarna. Akan tetapi
untuk daging biji kakao tidak dapat langsung di lakukan pengukuran di
sebabkan warna larutannya
terlalu pekat sehingga
harus melakukan pengenceran terlebih
dahulu, karena jika terlalu
pekat spektronik 20
tidak dapat membacaabsorbansi cahaya yang di lewatkan
pada larutan sebab cahaya tidak dapatmenembus larutan yang memiliki tingkat
kepekatan warna yang cukup tinggi. Menurut Houghton (1998), metode
spektrofotometri merupakan metode yang
digunakan untuk mengukur absorbansi dengan cara melewatkan cahaya dengan panjang
gelombang tertentu pada suatu obyek kaca atau kuarsa yang disebut kuvet. Sebagian dari cahaya
tersebut akan diserap dan sisanya akan dilewatkan. Nilai absorbansi dari cahaya yang dilewatkan akan sebanding dengan konsentrasi larutan di dalam kuvet. Dari pengukuran yang dilakukan
diperoleh nilai absorbansi pada kilit ari biji kakao sebesar 1,370 A dan pada
daging biji kakao sebesar 1,927 A. Berdasarkan perhitungan yang dilakukan,
Kadar fenolat yang diperoleh pada kulit ari biji kakao yaitu 31,3671% sedangkan kadar
fenolat pada daging biji kakao yaitu 12,5406%. Menurut Wulandari (2011)
bahwa kadar fenolat pada kulit ari biji kakao adalah 1,49%. Dari hasil yang
diperoleh dapat dikatakan adanya perbedaan dengan literatur hal ini dikarenakan
bedanya jumlah sampel yang digunakan.
BAB
V
PENUTUP
5.1
Kesimpulan
Berdasarkan
percobaan di atas dapat disumpulkan :
1. Isolasi
fenolat dari biji kakao dilakukan
menggunakan metode maserasi dengan etanol sebagai pelarut.
2. Hasil
kadar fenolat didapatkan secara berturut-turut yaitu 31,3671% dan 12,5406%.
5.1.
Saran
Sebaiknya
alat dan bahan dilengkapi lagi sehingga dapat mengerjakan dengan tepat dan
lebih akurat.
Abdullah. (1982).
Budidaya Tembakau. Jakarta.
Yasaguna.
Cairns
D. (2009).
Inti Sari Farmasi Edisi Kedua. Puspita sari. Jakarta.
Erlangga.
Hart.Harold.1983.Kimia Organik Suatu Kuliah Singkat.Erlangga. Jakarta.
Houghton,
P.J. dan A. Raman. (1998).
Laboratory Handbook for the Fractination of Natural Extracts. London. Chapman & Hall.
Pedriclli.
Weisburger, J. (2001).
Chemopreventive Effects of Cocoa
Polyphenols on Chronic Disease. Eksperimental Biology and Medicine.
Poedjiwidodo.
(1996).Pengolahan
Cokelat. Departemen Teknologi Hasil Pertanian. Bogor. IPB-Press.
Sarker.
Shriner, R. L. Fuson, R. C., Curtin, D. Y., Morrill, T. C. (2005). Qualitative Identification of Organic Compounds, 6th ed., pp, Wiley. New York.
Spillane. (1995). Kadar Fenilat Biji Kakao. Palu. Universitas
Tadulako.
Sudarmadji,
S., Haryono, B. (1996). Analisa Bahan Makanan
dan Pertanian. Yogyakarta. Liberty.
Susanto. (1994). Kajian Kesesuaian Mutu Kakao Rakyat Sulawesi Selatan
Dengan SNI 01-2323-2002. Jakarta. Badan
Standarisasi Nasional Pusat Penelitian dan Pengembangan Standarisasi.
Wahyudi.
Lamuela-Raventos, R. M., Ramero-Perez, A. L., Andres-Lacueva, C. And Tornero,
A. (2008). Health Effects of Cocoa Flavonoids, Food
Scince and Technology International.
Wahyuni, Sri. (2011). Diktat Petunjuk Praktikum Kimia
Fisik. Semarang. Jurusan Kimia. FMIPA UNES