BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tak hanya pada kesehatan jatung, paru-paru, dan kulit,
rokok juga dapat mempengaruhi kesehatan otak. Nikotin yang
hadir dalam rokok akan mengaktifkan area otak yang terlibat dalam menghasilkan
perasaan senang. Itulah sebabnya nikotin dapat membuat orang menjadi kecanduan. Saat konsumsi nikotin
dikurangi, penarikan ini bisa membuat seseorang jadi mudah tersinggung,
gelisah, dan cemas. Merokok secara berlebihan juga bisa menyebabkan otak
melemah dan menyusut. Maka tak mengherankan jika perokok berisiko tinggi
mengalami demensia, Alzheimer, dan
insomnia.
Rokok juga bisa mempengaruhi IQ dikarenakan pasokan oksigen yang
berkurang dan adanya karbon dioksida dari rokok bisa mengganggu sel sehat otak. Perokok kronis memiliki risiko
tinggi untuk terkena stroke. Nikotin
di dalam rokok bisa
meningkatkan risiko deposisi plak di arteri yang berujung dengan stroke otak.
Rokok selama ini hanya sebagai penikmat belaka yang tidak
bermanfaat bagi kesehatan, untuk itulah perlu dikaji lebih dalam tentang
manfaat dari rokok, salah satunya yaitu kandungan nikotin pada rokok yang
bermanfaat sebagai pestisida untuk tanaman.
Di dalam
tembakau kering terdapat nikotin dengan kadar rata-rata 2% - 8%. Hal ini
tergantung dari spesies dan cara pengolahan dari tembakau itu sendiri. Nikotin
dapat diperoleh dari daun tembakau dengan cara ekstraksi dengan menggunakan
pelarutnya. Nikotin dapat larut dalam pelarut organik, dimana kadar nikotin
yang diperoleh dari ekstraksi dapat dipengaruhi oleh larutan pengekstraksi.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana cara isolasi nikotin dari puntung rokok?
1.3 Tujuan Percobaan
Untuk
mempelajari cara isolasi nikotin dari puntung rokok.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1 Rokok
![]() |
Gambar
2.1 Rokok
Rokok adalah
salah satu zat adiktif yang bila digunakan mengakibatkan bahaya bagi kesehatan
individu dan masyarakat. Kemudian ada juga yang menyebutkan bahwa rokok adalah
hasil olahan tembakau terbungkus termasuk cerutu atau bahan lainya yang dihasilkan
dari tanamam Nicotiana Tabacum, Nicotiana Rustica dan spesies lainnya
atau sintesisnya yang mengandung nikotin dan tar atau tanpa bahan tambahan. Rokok terbuat dari
tembakau yang diperoleh dari tanaman Nicotiana Tabacum L. Tembakau dipergunakan
sebagai bahan untuk sigaret, cerutu, tembakau untuk pipa serta pemakaian oral
(Tendra, 2003).
Sebatang rokok
biasanya mengandung 8-20 mg nikotin, walaupun tentu saja, sangat bergantung
pada merk rokok tersebut. Di dalam tubuh menyerap 1mg nikotin untuk satu batang
rokok yang dihisap. Merokok atau proses inhalasi, adalah cara yang paling umum
dan tercepat bagi nikotin untuk terserap dalam darah. Paru-paru mengandung
banyak alveolus. Alveolus adalah semacam kantung kecil, tempat terjadinya
pertukaran antara udara kotor dan bersih yang dihirup. Setelah berada dalam
sistem peredaran darah, Nikotin dengan cepat akan sampai ke otak, dan bereaksi
dengan sel-sel otak sehingga terciptalah perasaan nyaman. Dibutuhkan 5-15 detik
setelah hisapan pertama bagi nikotin untuk bereaksi dalam tubuh (otak). Dalam
satu kali merokok, kira-kira 0,031 mg nikotin yang akan tertinggal dalam tubuh
manusia (Soeharsono, 2006).
Asap rokok
mengandung sekitar 4000 senyawa, antara lain nikotin, terpenoid dan 3,4-benozopiren,
karbon monoksida, karbon dioksida, nitrogen oksida, amonia, sulfur. Nikotin,
suatu alkaloid yang sudah lama dikenal, dalam asap rokok lama kelamaan akan
terakumulasi pada dinding pembuluh darah perokok menyempitkan pembuluh darah.
Nikotin dalam asap rokok yang masuk ke paru-paru dengan cepat diabsorpsi dari
paru-paru ke dalam darah dan efisiensinya hampir sama apabila diberikan secara
intravena. Senyawa ini mencapai otak dalam waktu 8 detik setelah inhalasi.
Bahan utama rokok adalah daun tembakau (Nicotiana
tabacum) kering yang merupakan sumber utama nikotin (Chitra, 2012).
2.2 Koloid
Alkaloid adalah senyawa yang mengandung substansi dasar
nitrogen basa, biasanya dalam bentuk cincin heterosiklik. Alkaloid
terdistribusi secara luas pada tanaman. Diperkirakan sekitar 15 – 20%vascular
tanaman mengandung lakaloid. Banyak alkaloid merupakan turunan asam amino
lisin, ornitin, fenilalanin, asam nikotin, dan asam antranilat. Asam amino
disintesis dalam tanaman dengan proses dekarboksilasi menjadi amina, amina
kemudian diubah menjadi aldehida oleh amina oksida. Alkaloid biasanya pahit dan
sangat beracun. Alkaloid
ini diklasifikasikan lagi berdasarkan tipe dasar kimia pada nitrogen yang
terkandung dalam bentuk heterosiklik. Klasifikasi alkaloid tersebut meliputi
pirrolizidine alkaloids, peperidine alkaloids, pyridine alkaloids, indole
alkaloids, quinolizidine alkaloids, steroidalkaloids, policyclic diterpene
alkaloids, indolizidine alkaloids, tryptamine alkaloids, tropane alkaloids,
fescue alkaloid dan miscellaneous alkaloid. Peranan alkaloid dalam jaringan
tanaman tidak pasti, mereka telah dikenal sebagai produk metabolik atau
substansi (Trevor, 2000).
2.3 Nikotin
Nikotin merupakan suatu cairan alkaloid
berwarna kuning pucat hingga coklat tua yang ditemukan dalam tanaman
Solanaceae. Kadar nikotin merupakan kunci untuk menentukan kualitas tembakau.
Banyak faktor yang memengaruhi kadar nikotin ini, yaitu jenis tembakau, jenis
tanah, kadar nitrogen tanah, tingkat kematangan tembakau, dan masa penguningan. Nikotin bersifat higroskopis, dapat bercampur
dengan air pada suhu di bawah 60 °C, sangat larut dalam alkohol, kloroform,
eter, kerosin, dan sejenisnya (Tassew 2007).
Nikotin
termasuk salah satu kelompok senyawa alkaloid yang terdapat pada tembakau.
Kandungan nikotin dalam tembakau dapat mencapai 0,3% sampai dengan 5% bobot
kering yang berasal dari biosintesis di akar dan diakumulasikan di daun.
Nikotin memiliki kegunaan yaitu untuk menstimulasi produksi dopamin secara
berlebihan dan membuat tubuh menjadi rileks. Serta kerugian yang dapat membuat
seseorang gelisah apabila konsentrasi dopamin menurun. Nikotin juga memiliki
zat yang dapat menimbulkan efek samping yaitu menaikkan tekanan darah,
mempercepat denyut jantung, mempercepat terjadinya berbagai penyakit dan
merusak semua jaringan dalam tubuh. Rokok yang dilengkapi dengan filter akan
menahan sebagian nikotin pada filter, sedangkan yang lainnya lolos masuk ke
dalam paru-paru. Nikotin merupakan senyawa alkaloid yang pertama kali digunakan
sebagai pestisida, namun dengan adanya senyawa-senyawa sintetik yang memiliki
aktivitas pestisida yang lebih tinggi dengan harga yang lebih murah, nikotin
tidak lagi digunakan meskipun diketahui bahwa nikotin lebih aman dalam
penggunaannya sebagai pestisida (Hart, 2003)

Gambar
2.2 Struktur molekul Nikotin (Hart, 2003).
Kandungan nikotin tembakau
bervariasi tergantung pada jenis bagian tanaman tersebut. Kadar nikotin
tertinggi terdapat pada daun, akar kemudian batang. Kadar nikotin daging daun
lebih tinggi daripada tulang daun dan kandungan dalam daging daun meningkat
kearah tepi daun, sedangkan pada tulang daun meningkat ke arah pucuk daun
(Sakdiyah, 2007).
2.4 Spektrofotometer
Spektrofotometer
merupakan alat yang digunakan untuk mengukur absorbansi dengan cara melewatkan
cahaya dengan panjang gelombang tertentu pada suatu obyek kaca atau kuarsa yang
disebut kuvet. Sebagian dari cahaya tersebut akan diserap dan sisanya akan
dilewatkan. Nilai absorbansi dari cahaya yang dilewatkan akan sebanding dengan
konsentrasi larutan di dalam kuvet (Cairns, 2009).
Spektrofotometri
menyiratkan pengukuran jauhnya penyerapan energi cahaya oleh suatu sistem kimia
itu sebagai suatu fungsi dari panjang gelombang radiasi, demikian pula
pengukuran penyerapan yang menyendiri pada suatu panjang gelombang tertentu
(Underwood, 1986).
![]() |
Gambar
2.3 Spektrofotometer
BAB
III
METODE
PERCOBAAN
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari rabu, 14 Maret 2018,
pukul 15.00 sampai dengan selesai. Di Laboratorium Kimia Bahan Alam, Jurusan
Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Tadulako,
Palu.
3.2 Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini yaitu puntung
rokok, etanol 95%, kertas saring, dan tisu.
Alat yang digunakan antara lain gelas ukur 100 mL,
erlenmeyer 250 mL, corong kaca, kuvet, pipet tetes, pengocok, dan spektronik
20.
3.3 Prosedur Kerja
Puntung rokok sebanyak 10 puntung dipisahkan dari
filternya dan ditimbang, kemudian dimaukkan kedalam erlenmeyer 250 mL dan
etanol ditambahka sebanyak 200 mL. Campuran dikocok selama 2 jam di atas mesin
kocok agitasi 250 rpm, kemudian disaring dan filtratnya ditampung. Filtrat yang
dihasilkan diukur serapannya pada panjang gelombang antara 400 nm sampai 700 nm
dan panjang gelombang maksimumnya ditentukan. Setelah itu kadarnya ditentukan
dengan menggunakan persamaan:
Keterangan:
C = Konsentrasi (g/100mL)
A = Absorbans pada panjang gelombang maksimum
b = Tebal kuvet
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Pengamatan
Panjang
gemlombang
|
Absorbansi
|
400
|
0.543
|
440
|
0.379
|
480
|
0.149
|
520
|
0.098
|
560
|
0.121
|
600
|
0.128
|
640
|
0.103
|
680
|
0.173
|
700
|
0.178
|
4.2 Analisi Data
Dik : A = 0,508
b = 0,1 cm
Dit : Konsentrasi (g/100 ml) … ?
Penye :
Jadi, nilai konsentrasi yang didapatkan
yaitu sebesar 
4.3 Pembahasan
Rokok
adalah salah satu zat adiktif yang bila digunakan mengakibatkan bahaya bagi
kesehatan individu dan masyarakat. Rokok terbuat dari tembakau yang diperoleh
dari tanaman Nicotiana Tabacum L.
Tembakau dipergunakan sebagai bahan untuk sigaret, cerutu, tembakau untuk pipa
serta pemakaian oral. Asap rokok mengandung sekitar 4000 senyawa, antara lain
nikotin, terpenoid dan 3,4-benozopiren, karbon monok-sida, karbon dioksida,
nitrogen oksida, amonia, sulfur. Nikotin, suatu alkaloid yang sudah lama
dikenal, dalam asap rokok lama kelamaan akan terakumulasi pada dinding pembuluh
darah perokok menyempitkan pembuluh darah. Tujuan dari percobaan ini yaitu
untuk mempelajari cara isolasi nikotin dari puntung rokok.
Perlakuan
pertama pada percobaan ini adalah melakukan proses ekstraksi. Ekstraksi adalah
proses pemisahan senyawa dari senyawa-senyawa lain dengan menggunakan
pelarutnya. Pada proses ekstraksi ini
digunakan pelarut etanol 95%, karenakan etanol termasuk ke dalam pelarut polar,
sehingga sebagai pelarut, etanol diharapkan dapat menarik zat-zat aktif yang juga
bersifat polar. Menurut Trevor (2000),
Etanol memiliki kelebihan dibandingkan dengan air dan metanol. Senyawa kimia
yang mampu diekstrak dengan etanol lebih banyak dari pada dengan metanol dan
air.
Pada
proses pengekstraksian ini dilakukan pengocokkan selama 2 jam dengan 250 rpm
yang bertujuan untuk meningkatkan energi kinetik reaksi sehingga proses
ekstraksi dapat berjalan maksimal. Menurut Abdullah (1982), pengocokan selama 2
jam dengan 250 rpm dapat melarutkan zat aktif dalam puntung rokok. Faktor yang
mempengaruhi kadar nikotin yaitu jenis tembakau, jenis tanah, kadar nitrogen
tanah, tingkat kematangan tembakau, dan masa penguningan. Selanjutnya ekstrak
disaring untuk memisahkan filtrat dan residu. Filtrat yang didapatkan merupakan
hasil isolasi nikotin dari puntung rokok. Filtrat yang didapatkan berwarna
kuning muda. Hasil ini telah sesuai dengan literatur. Menurut Tassew (2007),
nikotin berbentuk cairan seperti minyak, bersifat higroskopis, tidak berwarna
hingga berwarna kuning muda, yang dapat berubah warna menjadi cokelat bila
kontak dengan udara dan cahaya.
Kemudian mengukur serapannya pada panjang gelombang
maksimum 400 nm dengan spektrofotometri. Menurut Houghton et al
(1998), metode
spektrofotometri merupakan metode yang digunakan untuk mengukur absorbansi dengan cara melewatkan cahaya dengan panjang
gelombang tertentu pada suatu obyek kaca atau kuarsa yang disebut kuvet. Sebagian dari cahaya tersebut akan diserap
dan sisanya akan dilewatkan. Nilai absorbansi dari cahaya yang dilewatkan akan sebanding dengan konsentrasi larutan di dalam kuvet. Hasil yang didapatkan yaitu 0,543 nm dengan
nilai konsentrasinya adalah 1,5514
. Menurut Cahyono (1998), rokok tipe mild memiliki kandungan tar serta
nikotin lebih rendah, yaitu seputar 14-15 mg tar serta 5 mg nikotin. Nikotin
rokok class mild termasuk rendah karena proses lebih lanjut dikerjakan pada
tembakau saat sebelum dicacah halus menjadi setengah serbuk. Hal ini tidak
sesuai dengan literatur dikarenakan nikotin yang terdapat pada filter tidak
semua terikut pada saat menghisap rokok tersebut dan sebagian dari nikotin
telah terhirup ke dalam tubuh manusia. Sehingga isolasi nikotin hanya sedikit.
BAB
V
PENUTUP
5.1.Kesimpulan
Adapun
kesimpulan dari percobaan ini yaitu :
1. Nikotin
diisolasi dengan metode ekstraksi dengan pelarut etanol lalu diukur absorbansinya menggunakan metode
spektrofotometri.
2. Dari
percobaan yang telah dilakukan, nilai absorbansi pada panjang gelombang 400 nm yaitu
0.543 dengan konsentrasi 1.5514 g/100 mL.
5.2.Saran
Adapun
saran yang dapat diberikan yaitu sebaiknya lebih diperhatikan lagi pada saat pengocokan agar dapat sesuai dengan
literature.
Abdullah, A. dan Soedarmanto. (1982).Budidaya Tembakau. Jakarta. CV
Yasaguna.
Cahyono. B. (1998). TEMBAKAUBudi daya dan Analisis Tani.
Yogyakarta: Kanisius.
Cairns
D. (2009).
Inti Sari Farmasi Edisi Kedua. Puspita sari. Jakarta. Erlangga
Chitra. (2012). A
Comparative Phytochemical Analysis of Tobacco and its Natural Extract-An
Eccentric Approach. International Journal of Pharmacy and Pharmaeutical
Sciences 4:1-2.
Hart, H., Craine, L.E., dan Hart,
D.J.(2003). Kimia Organik. Jakarta. Erlangga.
Houghton,
P.J. dan A. Raman. (1998).
Laboratory Handbook for the Fractination
of Natural Extracts. London. Chapman & Hall.
Sakdiyah, H.(2007). Isolasi Nikotin dari Daun Tembakau
dan Pengaruh Isolat Kasar sebagai Insektisida Alami Terhadap Ulat Grayak
(Spodoptera Litura). Skripsi. Malang: Universitas Negeri Malang.
Soeharsono, M.(2006). Kimia Organik
Bahan Alam. Yogyakarta: Gajah Mada Universitas Press.
Tendra.(1990). Dampak
Buruk dari Rokok untuk Kesehatan. Surabaya: Erlangga.
Tassew, Z.(2007). Levels of Nicotine in Ethiopian Tobacco Leaves. Addis Ababa University.
Trevor Robinson. (2000).
Kandungan
Organik Tumbuhan Tinggi. Bandung: ITB
Underwood, dkk. (1986).
Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta: Erlangga.


No comments:
Post a Comment