Tuesday, April 10, 2018

isolasi nikotin dari puntung rokok


BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tak hanya pada kesehatan jatung, paru-paru, dan kulit, rokok juga dapat mempengaruhi kesehatan otak. Nikotin yang hadir dalam rokok akan mengaktifkan area otak yang terlibat dalam menghasilkan perasaan senang. Itulah sebabnya nikotin dapat membuat orang menjadi kecanduan. Saat konsumsi nikotin dikurangi, penarikan ini bisa membuat seseorang jadi mudah tersinggung, gelisah, dan cemas. Merokok secara berlebihan juga bisa menyebabkan otak melemah dan menyusut. Maka tak mengherankan jika perokok berisiko tinggi mengalami demensia, Alzheimer, dan insomnia.
Rokok juga bisa mempengaruhi IQ dikarenakan pasokan oksigen yang berkurang dan adanya karbon dioksida dari rokok bisa mengganggu sel sehat otak. Perokok kronis memiliki risiko tinggi untuk terkena stroke. Nikotin di dalam rokok bisa meningkatkan risiko deposisi plak di arteri yang berujung dengan stroke otak.
Rokok selama ini hanya sebagai penikmat belaka yang tidak bermanfaat bagi kesehatan, untuk itulah perlu dikaji lebih dalam tentang manfaat dari rokok, salah satunya yaitu kandungan nikotin pada rokok yang bermanfaat sebagai pestisida untuk tanaman.
Di dalam tembakau kering terdapat nikotin dengan kadar rata-rata 2% - 8%. Hal ini tergantung dari spesies dan cara pengolahan dari tembakau itu sendiri. Nikotin dapat diperoleh dari daun tembakau dengan cara ekstraksi dengan menggunakan pelarutnya. Nikotin dapat larut dalam pelarut organik, dimana kadar nikotin yang diperoleh dari ekstraksi dapat dipengaruhi oleh larutan pengekstraksi.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana cara isolasi nikotin dari puntung rokok?
1.3 Tujuan Percobaan
Untuk mempelajari cara isolasi nikotin dari puntung rokok.


























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Rokok

Hasil gambar untuk rokok
 








Gambar 2.1 Rokok
Rokok adalah salah satu zat adiktif yang bila digunakan mengakibatkan bahaya bagi kesehatan individu dan masyarakat. Kemudian ada juga yang menyebutkan bahwa rokok adalah hasil olahan tembakau terbungkus termasuk cerutu atau bahan lainya yang dihasilkan dari tanamam Nicotiana Tabacum, Nicotiana Rustica dan spesies lainnya atau sintesisnya yang mengandung nikotin dan tar  atau tanpa bahan tambahan. Rokok terbuat dari tembakau yang diperoleh dari tanaman Nicotiana Tabacum L. Tembakau dipergunakan sebagai bahan untuk sigaret, cerutu, tembakau untuk pipa serta pemakaian oral (Tendra, 2003).
Sebatang rokok biasanya mengandung 8-20 mg nikotin, walaupun tentu saja, sangat bergantung pada merk rokok tersebut. Di dalam tubuh menyerap 1mg nikotin untuk satu batang rokok yang dihisap. Merokok atau proses inhalasi, adalah cara yang paling umum dan tercepat bagi nikotin untuk terserap dalam darah. Paru-paru mengandung banyak alveolus. Alveolus adalah semacam kantung kecil, tempat terjadinya pertukaran antara udara kotor dan bersih yang dihirup. Setelah berada dalam sistem peredaran darah, Nikotin dengan cepat akan sampai ke otak, dan bereaksi dengan sel-sel otak sehingga terciptalah perasaan nyaman. Dibutuhkan 5-15 detik setelah hisapan pertama bagi nikotin untuk bereaksi dalam tubuh (otak). Dalam satu kali merokok, kira-kira 0,031 mg nikotin yang akan tertinggal dalam tubuh manusia (Soeharsono, 2006).
Asap rokok mengandung sekitar 4000 senyawa, antara lain nikotin, terpenoid dan 3,4-benozopiren, karbon monoksida, karbon dioksida, nitrogen oksida, amonia, sulfur. Nikotin, suatu alkaloid yang sudah lama dikenal, dalam asap rokok lama kelamaan akan terakumulasi pada dinding pembuluh darah perokok menyempitkan pembuluh darah. Nikotin dalam asap rokok yang masuk ke paru-paru dengan cepat diabsorpsi dari paru-paru ke dalam darah dan efisiensinya hampir sama apabila diberikan secara intravena. Senyawa ini mencapai otak dalam waktu 8 detik setelah inhalasi. Bahan utama rokok adalah daun tembakau (Nicotiana tabacum) kering yang merupakan sumber utama nikotin (Chitra, 2012).
2.2 Koloid
Alkaloid adalah senyawa yang mengandung substansi dasar nitrogen basa, biasanya dalam bentuk cincin heterosiklik. Alkaloid terdistribusi secara luas pada tanaman. Diperkirakan sekitar 15 – 20%vascular tanaman mengandung lakaloid. Banyak alkaloid merupakan turunan asam amino lisin, ornitin, fenilalanin, asam nikotin, dan asam antranilat. Asam amino disintesis dalam tanaman dengan proses dekarboksilasi menjadi amina, amina kemudian diubah menjadi aldehida oleh amina oksida. Alkaloid biasanya pahit dan sangat beracun. Alkaloid ini diklasifikasikan lagi berdasarkan tipe dasar kimia pada nitrogen yang terkandung dalam bentuk heterosiklik. Klasifikasi alkaloid tersebut meliputi pirrolizidine alkaloids, peperidine alkaloids, pyridine alkaloids, indole alkaloids, quinolizidine alkaloids, steroidalkaloids, policyclic diterpene alkaloids, indolizidine alkaloids, tryptamine alkaloids, tropane alkaloids, fescue alkaloid dan miscellaneous alkaloid. Peranan alkaloid dalam jaringan tanaman tidak pasti, mereka telah dikenal sebagai produk metabolik atau substansi (Trevor, 2000).
2.3 Nikotin
Nikotin merupakan suatu cairan alkaloid berwarna kuning pucat hingga coklat tua yang ditemukan dalam tanaman Solanaceae. Kadar nikotin merupakan kunci untuk menentukan kualitas tembakau. Banyak faktor yang memengaruhi kadar nikotin ini, yaitu jenis tembakau, jenis tanah, kadar nitrogen tanah, tingkat kematangan tembakau, dan masa penguningan. Nikotin bersifat higroskopis, dapat bercampur dengan air pada suhu di bawah 60 °C, sangat larut dalam alkohol, kloroform, eter, kerosin, dan sejenisnya (Tassew 2007).
Nikotin termasuk salah satu kelompok senyawa alkaloid yang terdapat pada tembakau. Kandungan nikotin dalam tembakau dapat mencapai 0,3% sampai dengan 5% bobot kering yang berasal dari biosintesis di akar dan diakumulasikan di daun. Nikotin memiliki kegunaan yaitu untuk menstimulasi produksi dopamin secara berlebihan dan membuat tubuh menjadi rileks. Serta kerugian yang dapat membuat seseorang gelisah apabila konsentrasi dopamin menurun. Nikotin juga memiliki zat yang dapat menimbulkan efek samping yaitu menaikkan tekanan darah, mempercepat denyut jantung, mempercepat terjadinya berbagai penyakit dan merusak semua jaringan dalam tubuh. Rokok yang dilengkapi dengan filter akan menahan sebagian nikotin pada filter, sedangkan yang lainnya lolos masuk ke dalam paru-paru. Nikotin merupakan senyawa alkaloid yang pertama kali digunakan sebagai pestisida, namun dengan adanya senyawa-senyawa sintetik yang memiliki aktivitas pestisida yang lebih tinggi dengan harga yang lebih murah, nikotin tidak lagi digunakan meskipun diketahui bahwa nikotin lebih aman dalam penggunaannya sebagai pestisida (Hart, 2003)
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhSItZ25XkqfRyxaHZ_DqQImVqLS_ZVRRx01NIn-iE_QfdbyEdl-Ae5QikKGYwsIaXw9107zBoaeYqrUwq8tT5Jn_lhX5_zg03BXWQPVNxtomW7r-Rs9Vop9oNCYJxgBHOKhCw-GZf-gtu0/s1600/nikotin.jpg 





Gambar 2.2 Struktur molekul Nikotin (Hart, 2003).
Kandungan nikotin tembakau bervariasi tergantung pada jenis bagian tanaman tersebut. Kadar nikotin tertinggi terdapat pada daun, akar kemudian batang. Kadar nikotin daging daun lebih tinggi daripada tulang daun dan kandungan dalam daging daun meningkat kearah tepi daun, sedangkan pada tulang daun meningkat ke arah pucuk daun (Sakdiyah, 2007).
2.4 Spektrofotometer
Spektrofotometer merupakan alat yang digunakan untuk mengukur absorbansi dengan cara melewatkan cahaya dengan panjang gelombang tertentu pada suatu obyek kaca atau kuarsa yang disebut kuvet. Sebagian dari cahaya tersebut akan diserap dan sisanya akan dilewatkan. Nilai absorbansi dari cahaya yang dilewatkan akan sebanding dengan konsentrasi larutan di dalam kuvet (Cairns, 2009).
Spektrofotometri menyiratkan pengukuran jauhnya penyerapan energi cahaya oleh suatu sistem kimia itu sebagai suatu fungsi dari panjang gelombang radiasi, demikian pula pengukuran penyerapan yang menyendiri pada suatu panjang gelombang tertentu (Underwood, 1986).
 




Gambar 2.3 Spektrofotometer
BAB III
METODE PERCOBAAN
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari rabu, 14 Maret 2018, pukul 15.00 sampai dengan selesai. Di Laboratorium Kimia Bahan Alam, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Tadulako, Palu.
3.2 Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam percobaan ini yaitu puntung rokok, etanol 95%, kertas saring, dan tisu.
Alat yang digunakan antara lain gelas ukur 100 mL, erlenmeyer 250 mL, corong kaca, kuvet, pipet tetes, pengocok, dan spektronik 20.
3.3 Prosedur Kerja
Puntung rokok sebanyak 10 puntung dipisahkan dari filternya dan ditimbang, kemudian dimaukkan kedalam erlenmeyer 250 mL dan etanol ditambahka sebanyak 200 mL. Campuran dikocok selama 2 jam di atas mesin kocok agitasi 250 rpm, kemudian disaring dan filtratnya ditampung. Filtrat yang dihasilkan diukur serapannya pada panjang gelombang antara 400 nm sampai 700 nm dan panjang gelombang maksimumnya ditentukan. Setelah itu kadarnya ditentukan dengan menggunakan persamaan:
Keterangan:
C = Konsentrasi (g/100mL)
A = Absorbans pada panjang gelombang maksimum
b = Tebal kuvet
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Panjang gemlombang
Absorbansi
400
0.543
440
0.379
480
0.149
520
0.098
560
0.121
600
0.128
640
0.103
680
0.173
700
0.178









4.2 Analisi Data
Dik : A       = 0,508
 b      = 0,1 cm
Dit : Konsentrasi (g/100 ml) … ?
Penye :
Jadi, nilai konsentrasi yang didapatkan yaitu sebesar















4.3 Pembahasan
Rokok adalah salah satu zat adiktif yang bila digunakan mengakibatkan bahaya bagi kesehatan individu dan masyarakat. Rokok terbuat dari tembakau yang diperoleh dari tanaman Nicotiana Tabacum L. Tembakau dipergunakan sebagai bahan untuk sigaret, cerutu, tembakau untuk pipa serta pemakaian oral. Asap rokok mengandung sekitar 4000 senyawa, antara lain nikotin, terpenoid dan 3,4-benozopiren, karbon monok-sida, karbon dioksida, nitrogen oksida, amonia, sulfur. Nikotin, suatu alkaloid yang sudah lama dikenal, dalam asap rokok lama kelamaan akan terakumulasi pada dinding pembuluh darah perokok menyempitkan pembuluh darah. Tujuan dari percobaan ini yaitu untuk mempelajari cara isolasi nikotin dari puntung rokok.
Perlakuan pertama pada percobaan ini adalah melakukan proses ekstraksi. Ekstraksi adalah proses pemisahan senyawa dari senyawa-senyawa lain dengan menggunakan pelarutnya.  Pada proses ekstraksi ini digunakan pelarut etanol 95%, karenakan etanol termasuk ke dalam pelarut polar, sehingga sebagai pelarut, etanol diharapkan dapat menarik zat-zat aktif yang juga bersifat polar. Menurut Trevor  (2000), Etanol memiliki kelebihan dibandingkan dengan air dan metanol. Senyawa kimia yang mampu diekstrak dengan etanol lebih banyak dari pada dengan metanol dan air.
Pada proses pengekstraksian ini dilakukan pengocokkan selama 2 jam dengan 250 rpm yang bertujuan untuk meningkatkan energi kinetik reaksi sehingga proses ekstraksi dapat berjalan maksimal. Menurut Abdullah (1982), pengocokan selama 2 jam dengan 250 rpm dapat melarutkan zat aktif dalam puntung rokok. Faktor yang mempengaruhi kadar nikotin yaitu jenis tembakau, jenis tanah, kadar nitrogen tanah, tingkat kematangan tembakau, dan masa penguningan. Selanjutnya ekstrak disaring untuk memisahkan filtrat dan residu. Filtrat yang didapatkan merupakan hasil isolasi nikotin dari puntung rokok. Filtrat yang didapatkan berwarna kuning muda. Hasil ini telah sesuai dengan literatur. Menurut Tassew (2007), nikotin berbentuk cairan seperti minyak, bersifat higroskopis, tidak berwarna hingga berwarna kuning muda, yang dapat berubah warna menjadi cokelat bila kontak dengan udara dan cahaya.
Kemudian mengukur serapannya pada panjang gelombang maksimum 400 nm dengan spektrofotometri. Menurut Houghton et al (1998), metode spektrofotometri  merupakan metode yang digunakan untuk mengukur absorbansi dengan cara melewatkan cahaya dengan panjang gelombang tertentu pada suatu obyek kaca atau kuarsa yang disebut kuvet. Sebagian dari cahaya tersebut akan diserap dan sisanya akan dilewatkan. Nilai absorbansi dari cahaya yang dilewatkan akan sebanding dengan konsentrasi larutan di dalam kuvet. Hasil yang didapatkan yaitu 0,543 nm dengan nilai konsentrasinya adalah 1,5514. Menurut Cahyono (1998), rokok tipe mild memiliki kandungan tar serta nikotin lebih rendah, yaitu seputar 14-15 mg tar serta 5 mg nikotin. Nikotin rokok class mild termasuk rendah karena proses lebih lanjut dikerjakan pada tembakau saat sebelum dicacah halus menjadi setengah serbuk. Hal ini tidak sesuai dengan literatur dikarenakan nikotin yang terdapat pada filter tidak semua terikut pada saat menghisap rokok tersebut dan sebagian dari nikotin telah terhirup ke dalam tubuh manusia. Sehingga isolasi nikotin hanya sedikit.










BAB V
PENUTUP
5.1.Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari percobaan ini yaitu :
1.      Nikotin diisolasi dengan metode ekstraksi dengan pelarut etanol lalu diukur absorbansinya menggunakan metode spektrofotometri.
2.      Dari percobaan yang telah dilakukan, nilai absorbansi pada panjang gelombang 400 nm yaitu 0.543 dengan konsentrasi 1.5514 g/100 mL.

5.2.Saran
Adapun saran yang dapat diberikan yaitu sebaiknya lebih diperhatikan lagi pada saat pengocokan agar dapat sesuai dengan literature.













DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, A. dan Soedarmanto. (1982).Budidaya Tembakau. Jakarta. CV Yasaguna.
Cahyono. B. (1998). TEMBAKAUBudi daya dan Analisis Tani. Yogyakarta: Kanisius.
Cairns D. (2009). Inti Sari Farmasi Edisi Kedua. Puspita sari. Jakarta. Erlangga
Chitra. (2012). A Comparative Phytochemical Analysis of Tobacco and its Natural Extract-An Eccentric Approach. International Journal of Pharmacy and Pharmaeutical Sciences 4:1-2.
Hart, H., Craine, L.E., dan Hart, D.J.(2003). Kimia Organik. Jakarta. Erlangga.
Houghton, P.J. dan A. Raman. (1998). Laboratory Handbook for the Fractination of Natural Extracts. London. Chapman & Hall.
Sakdiyah, H.(2007). Isolasi Nikotin dari Daun Tembakau dan Pengaruh Isolat Kasar sebagai Insektisida Alami Terhadap Ulat Grayak (Spodoptera Litura). Skripsi. Malang: Universitas Negeri Malang.
Soeharsono, M.(2006). Kimia Organik Bahan Alam. Yogyakarta: Gajah Mada Universitas Press.
Tendra.(1990). Dampak  Buruk  dari Rokok untuk Kesehatan. Surabaya: Erlangga.
Tassew, Z.(2007). Levels of Nicotine in Ethiopian Tobacco Leaves. Addis Ababa University.
Trevor Robinson. (2000). Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Bandung: ITB
Underwood, dkk. (1986). Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta: Erlangga.

No comments:

Post a Comment