Tuesday, April 10, 2018

isolasi fenolat dari biji kakao


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan pembudidaya tanaman kakao paling luas dan termasuk penghasil kakao terbesar ketiga setelah Ivory Coast dan Ghana. Daun dan bunga kakao berkhasiat sebagai antiseptik, antidiuretik, ekbolik (meningkatkan rangsangan kontraksi uterus), dan emmenagogue (meningkatkan aliran darah haid). Biji kakao berpotensi sebagai bahan antioksidan alami, seperti mempunyai kemampuan untuk memodulasi sistem immun, efek kemopreventif untuk pencegahan penyakit kanker dan jantung coroner. Sedangkan buah kakao berkhasiat sebagai antikanker, antioksidan, dan antibakteri (Wahyudi, 2008).
Biji kakao memiliki kandungan fenolik yang tinggi yaitu antara 1218% (berat kering) pada biji yang tidak difermentasi.  Sedangkan, kandungan polifenol dalam cokelat sebagai produk kakao yang paling banyak dikonsumsi, secara signifikan jumlahnya lebih rendah yaitu 1,7-8,4 mg/g pada “dark chocolate” dan lebih rendah lagi pada susu coklat sekitar 0,7-5 mg/g. Total fenolik pada biji kakao mentah adalah monomer flavanol (epikatekhin dan katekhin) dan oligomer procyanidin (dimer hingga decamer). Kakao mengandung katekhin (kelompok senyawa flavan-3-ol) pada konsentrasi rata-rata 0,535 mg/g atau 4 kali lipat dari kandungan pada teh (139 mg/L). Hal inilah yang melatarbelakangi melakukan percobaan ini.
Metode yang digunakan dalam praktikm ini yaitu metode maserasi. Metode maserasi merupakan metode ekstraksi dengan cara merendam bahan di dalam pelarut tanpa melibatkan panas (Sarker, 2005).

1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana cara isolasi fenolat dari biji kakao?
1.3 Tujuan Percobaan
Mempelajari cara isolasi fenolat dari biji kakao.
















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kakao(Theobroma cacao L)
Kakao (Theobroma cacao L) adalah nama biologis yang diberikan pada pohon kakao oleh Linnaeus pada tahun 1753. Tempat alamiah dari genus Theobroma adalah di bagian hutan tropis dengan banyak curah hujan, tingkat kelembaban tinggi, dan teduh. Dalam kondisi seperti ini Theobroma cacao jarang berbuah dan hanya sedikit menghasilkan biji (Spillane, 1995).
Menurut Susanto (1994), jenis yang paling banyak ditanam untuk produksi
coklat hanya 3 jenis, yaitu :
1.      Jenis Criollo
Jenis Criollo terdiri dari Criollo Amerika Tengah dan Criollo Amerika Selatan. Jenis ini menghasilkan biji coklat yang mutunya sangat baik dan dikenal sebagai coklat mulia. Buahnya berwarna merah atau hijau, kulit buahnya tipis dan berbintil–bintil kasar dan lunak. Biji buahnya berbentuk bulat telur dan berukuran besar dengan kotiledon berwarna putih pada waktu basah.
2.      Jenis Forastero
Jenis ini menghasilkan biji coklat yang memiliki mutu sedang atau dikenal juga sebagai Ordinary cocoa. Buahnya berwarna hijau, kulitnya tebal, biji buahnya tipis atau gepeng dan kotiledon berwarna ungu pada waktu basah.
3.      Jenis Trinitario
Merupakan campuran dari jenis Criollo dengan jenis Forastero. Coklat Trinitario menghasilkan biji yang termasuk fine flavour cocoa dan ada yang termasuk bulk cocoa. Buahnya berwarna hijau atau merah dan bentuknya bermacam – macam. Biji buahnya juga bermacam – macam dengan kotiledon berwarna ungu muda sampai ungu tua pada waktu basah.
Menurut Poedjiwidodo (1996), klasifikasi tanaman kakao sebagai berikut :






Gambar 2.1 kakao (Theobroma cacao L)
Kingdom             : Plantae
Divisi                   : Spermatophyta
Anak divisi          : Angiospermae
Kelas                    : Dicotyledoneae
Bangsa                 : Malvales
Famili                   : Sterculiaceae
Genus                  : Theobroma
Spesies                 : Theobroma cacao, L.
2.2 Fenolat
Fenolat adalah sekelompok senyawa organik yang gugus hidroksilnya (-OH) langsung melekat pada karbon cincin benzene. Aktivator kuat dalam reaksi subtitusi aromatik elektrofilik terletak pada gugus –OH nya, karena ikatan karbon sp2 lebih kuat dari pada ikatan karbon sp3 maka ikatan C-O dalam fenol tidak mudah diputuskan. Fenol sendiri bertahan terhadap oksidasi karena pembentukan suatu gugus karbonil mengakibatkan dikorbankannya penstabilan aromatik. Fenol umumnya diberi nama menurut senyawa induknya. Kimiawi fenol telah diketahui lama sebelum pengetahuan kimia organik, sehingga banyak fenol mempunyai nama-nama umum. Metifenol misalnya, dikenal sebagai kresol (berasal dari kreosot, terdiri dari batu bara atau kayu yang mengandung zat ini. Berlawanan dengan alkohol, fenol-fenol adalah asam yang labih kuat dari pada air. Fenol sendiri 10.000 kali lebih asam dari pada air. Hal utama mengapa fenol lebih asam dibandingkan alkohol dan air adalah karena ion fenoksida dimantapkan oleh resonansi. Muatan negative pada hidroksida atau alkoksida tetap tinggal pada atom oksigen, sedangkanpada ion fenoksida muatan ini dapat didelokalisasi pada posisi-posisi orto dan para pada cincin benzena melalui resonansi (Hart,1983).
2.3 Etanol
Etanol atau biasa juga disebut etil alkohol adalah sejenis caira yang mudah menguap, mudah terbakar, tidak berwarna, dan merupakan alkohol yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Senyawa ini merupakan psiko aktif (obat) dan dapat ditemukan pada minuman beralkohol dan termometer modern. Etanol memiliki berat molekul 46,1 g/mol dan titik didih 78,3 oC. Etanol membeku pada suhu -117,3 oC, densitas 0,789 g/cm3 pada suhu 20 oC. Nilai kalornya 7077 kal/g (Wahyuni, 2012).
2.4 Maserasi dan Fraksinasi
Maserasi merupakan metode ekstraksi dengan cara merendam bahan di dalam pelarut tanpa melibatkan panas. Cara penyarian dengan maserasi sangat sederhana, namun membutuhkan waktu yang lama. Remaserasi berarti dilakukan pengulangan penambahan pelarut setelah dilakukan penyarian maserat yang pertama, dan seterusnya. Fraksinasi dilakukan dengan menggunakan partisi cair- cair. Dasar dari pemisahan dengan cara partisi adalah perbedaan kelarutan. Syarat yang harus dipenuhi untuk melakukan partisi yaitu digunakan dua pelarut yang tidak saling bercampur. Komponen dalam ekstrak akan terdistribusi dalam pelarut yang digunakan berdasarkan koefisien partisinya (Sarker, 2005).
Ekstraksi adalah suatu metode atau cara untuk memindahkan atau mengeluarkan sebuah senyawa atau zat dari suatu medium (fase) ke medium (fase) yang lain atau suatu proses untuk mendapatkan suatu zat dengan menggunakan solvent dari zat tersebut. Faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi dari ekstraksi adalah pengadukan, jenis solvent, waktu perendaman, ukuran partikel, dan lama ekstraksi (Sudarmadji, 1996).
2.5 Spektrofotometer
Spektrofotometer merupakan alat yang digunakan untuk mengukur absorbansi dengan cara melewatkan cahaya dengan panjang gelombang tertentu pada suatu obyek kaca atau kuarsa yang disebut kuvet. Sebagian dari cahaya tersebut akan diserap dan sisanya akan dilewatkan. Nilai absorbansi dari cahaya yang dilewatkan akan sebanding dengan konsentrasi larutan di dalam kuvet (Cairns, 2009).
Spektrofotometri menyiratkan pengukuran jauhnya penyerapan energi cahaya oleh suatu sistem kimia itu sebagai suatu fungsi dari panjang gelombang radiasi, demikian pula pengukuran penyerapan yang menyendiri pada suatu panjang gelombang tertentu (Wahyudi, 2008).
 






Gambar 2.2 Spektrofotometer (Wahyudi, 2008).

Menurut Wahyudi (2008), spektrofotometer terdiri dari 4 bagian penting yaitu :
a.       Sumber Cahaya
Sebagai sumber cahaya pada spektrofotometer, haruslah memiliki pancaran radiasi yang stabil dan intensitasnya tinggi. Sumber energi cahaya yang biasa untuk daerah tampak, ultraviolet dekat, dan inframerah dekat adalah sebuah lampu pijar dengan kawat rambut terbuat dari wolfram (tungsten). Lampu ini mirip dengan bola lampu pijar biasa, daerah panjang gelombang (l ) adalah 350 – 2200 nanometer (nm).
b.      Monokromator
Monokromator adalah alat yang berfungsi untuk menguraikan cahaya polikromatis menjadi beberapa komponen panjang gelombang tertentu (monokromatis) yang bebeda (terdispersi).
c.       Cuvet
Cuvet spektrofotometer adalah suatu alat yang digunakan sebagai tempat contoh atau cuplikan yang akan dianalisis.  Cuvet biasanya terbuat dari kwars, plexigalass, kaca, plastic dengan bentuk tabung empat persegi panjang 1 x 1 cm dan tinggi 5 cm. Pada pengukuran di daerah UV dipakai cuvet kwarsa atau plexiglass, sedangkan cuvet dari kaca tidak dapat dipakai sebab kaca mengabsorbsi sinar UV. Semua macam cuvet dapat dipakai untuk pengukuran di daerah sinar tampak (visible).
d.      Detektor
Peranan detektor penerima adalah memberikan respon terhadap cahaya pada berbagai panjang gelombang. Detektor akan mengubah cahaya menjadi sinyal listrik yang selanjutnya akan ditampilkan oleh penampil data dalam bentuk jarum penunjuk atau angka digital.




BAB III
METODE PERCOBAAN
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Jumat, 28  Maret 2018, pukul 15.00 Wita sampai selesai. Bertempat di Laboratorium Kimia Bahan Alam, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Tadulako, Palu.
3.2 Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah buffer fosfat pH 12, etanol 96%, asam fosfat 1:9, NH4OH 0,5 N, kakao, akuades, padatan fenol, kertas saring, aluminium foil, dan indikator MO.
Alat yang digunakan pada percobaan ini yaitu, neraca analitik, sendok zat, botol semprot, tabung reaksi, rak tabung, sentrifuge, spektrofotometer 20, corong kaca, labu ukur 100 ml, gelas ukur 100 ml dan 50 ml, Erlenmeyer 50 ml dan 100 ml, stopwatch, shaker erlenmeyer, dan kuvet.







3.3 Prosedur Kerja
3.3.1                    Ekstraksi fenolat dari kulit ari biji kakao
Memasukkan 5 gram kulit ari biji kakao ke dalam Erlenmeyer 250 mL, kemudian menambahkannya dengan 65 mL etanol 95%. Mengocok campuran di atas mesin kocok agitasi 250 rpm selama 2 jam. Menyaring campuran, menampung filtratnya, kemudian mengukur volumenya dan menentukan kandungan fenolatnya.
3.3.2                    Ekstraksi fenolat dari daging biji kakao
Memasukkan 15 gram daging biji kakao ke dalam Erlenmeyer 250 mL, kemudian menambahkannya dengan 65 mL etanol 95%. Mengocok campuran di atas mesin kocok agitasi 250 rpm selama 2 jam. Menyaring campuran, menampung filtratnya, kemudian mengukur volumenya dan menentukan kandungan fenolatnya.
3.3.3                    Penentuan kadar fenolat (pembuatan kurva baku)
Mengambil 20 mL larutan standar fenol (5, 10, 15, 20, dan 25 ppm) dan memasukkan ke dalam Erlenmyer. selanjutnya memanaskan dalam penangas air selama 5 menit, lalu  menambahkan 2 tetes indikator metal orange (MO) sampai terbentuk warna kuning. Selanjutnya menambahkan larutan dengan 3 tetes asam fosfat 1:9 sampai terbentuk warna merah jingga. Mendinginkan larutan kemudian menambahkan 1,2 mL NH4OH 0,5 N, kemudian mengatur pH larutan hingga 7,9 ± 0,1 dengan buffer fosfat (pH=12), selanjutnya mengukur serapannya pada panjang gelombang 460 nm. Menentukan kadar fenolat menggunakan persamaan berikut :
Kadar fenolat (%) =  x 100%
Keterangan : X = Konsentrasi fenolat
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
4.1.1 Ekstraksi Fenolat dari Kulit Ari Biji Kakao
No.
Perlakuan
Hasil Pengamatan
1.
5 gr kulit ari biji kakao + 65 mL etanol 96% .
Warna larutan coklat tua
2.
shaker selama 2 jam.
Warna larutan coklat muda.
3.
campuran disaring dan dihitung volumenya
Warnalarutancoklat muda dan volumenya 55 mL
4.
ekstrak dipanaskan selama 5 menit.
Warna larutan orange muda.
5.
ditambahkan 2 tetes indikator MO.
Warna larutan kuning.
6.
ditambahkan 2 tetes asamfosfat
1 : 9.
Warna larutan merah jingga
7.
ditambahkan 1,2 ml NH4OH 0,5 N.
Warna larutan kuning pucat dengan pH larutan 7
8.
Diukur absorbansi pada 460 nm.
Panjang gelombang = 1,370.






4.1.2 Ekstraksi Fenolat dari Daging Biji Kakao
No.
Perlakuan
Hasil Pengamatan
1.
15 gr daging biji kakao + 65 mL etanol 96% .
Warna larutan coklat tua.
2.
shaker selama 2 jam.
Warna larutan merah bata.
3.
campuran disaring dan dihitung volumenya.
Warnalarutanmerah anggur dan volumenya 46 mL.
4.
ekstrak dipanaskanselama 5 menit.
Warna larutan merah anggur.
5.
ditambahkan 2 tetes indikator MO.
Warnalarutan merah bata.
6.
ditambahkan 3 tetes asamfosfat
1 : 9
Warnalarutan coklat pekat
7.
ditambahkan 1,2 ml NH4OH 0,5 N.
Warna larutan merah anggur dengan pH larutan 7.
8.
diukurabsorbansipada 460 nm.
Panjang gelombang = 1,927.










4.1.3 Penentuan Kadar Fenolat (kurva baku)
No.
Perlakuan
Hasil Pengamatan
1.
Dibuat larutan standar fenol 5,10, 15, 20, dan 25 ppm dari larutan standar 500 ppm.
5 ppm = 0,5 mL
10 ppm = 1 mL
15 ppm = 1,5 mL
20 ppm = 2 mL
25 ppm = 2,5 mL
2.
Masing-masing larutan dipanaskan 5 menit + 2 tetes indikator MO.
Larutan berwarna kuning.
3.
Masing-masing larutan ditambahkan asam fosfat 1 : 9 3 tetes.
Larutan berwarna merah jingga.

4.
Masing-masing larutan ditambahkan 1,2 ml NH4OH 0,5 N
Warna larutan kuning pucat dengan pH larutan 7.
5.
Masing-masing larutan diukur nilai absorbansi pada 460 nm.
5 ppm = 0,085
10 ppm = 0,077
15 ppm = 0,071
20 ppm = 0,067
25 ppm = 0,068








4.2 Analisi Data
4.2.1 Kulit ari biji kakao
y =  0,0009x + 0,0868
x =
x =
x = 1425,7778
Kadar fenolat (%)   =  x 100 %
                                =  x 100 %
                                = 31,3671%







4.2.2 Daging biji kakao
y =  0,0009x + 0,0868
x =
x =
x = 2044,6667
Kadar fenolat (%)       =  x 100 %
                           =  x 100 %
                                       = 12,5406%













4.3 Pembahasaan
Kakao (Theobroma cacao L) adalah nama biologis yang diberikan pada pohon kakao oleh Linnaeus pada tahun 1753. Tempat alamiah dari genus Theobroma adalah di bagian hutan tropis dengan banyak curah hujan, tingkat kelembaban tinggi, dan teduh. Dalam kondisi seperti ini Theobroma cacao jarang berbuah dan hanya sedikit menghasilkan biji (Spillane, 1995).
Dalam isolasi fenolat dari biji kakao ini, metode yang digunakan adalah metode maserasi dengan pengocokan. Menurut Sarker (2005) maserasi merupakan proses perendaman sampel menggunakan pelarut organik pada temperatur ruangan. Proses ini sangat menguntungkan dalam isolasi senyawa bahan alam karena dengan perendaman sampel tumbuhan, akan terjadi pemecahan dinding dan membran sel akibat perbedaan tekanan antara di dalam dan di luar sel, sehingga metabolit sekunder yang ada dalam sitoplasma akan terlarut dalam pelarut organik dan ekstraksi senyawa akan sempurna karena dapat diatur lama perendaman yang dilakukan.Pemilihan pelarut untuk proses maserasi akan memberikan efektivitas yang tinggi dengan memperhatikan kelarutan senyawa bahan alam dalam pelarut tersebut. Secara umum, pelarut etanol merupakan pelarut yang banyak digunakan dalam proses isolasi senyawa organik bahan alam karena dapat melarutkan sebagian besar golongan metabolit sekunder, salah satunya adalah fenolat ini.
Biji kakao yang digunakan dalam bentuk bubuk karena semakin kecil permukaannya (sampel) maka akan semakin cepat larut dan bereaksi dengan pelarutnya. Selanjutnya pelarut yang digunakan yaitu etanol. Penggunaan etanol sebagai pelarut dikarenakan pelarut etanol bersifat semi polar, sehingga dapat mencari senyawa yang bersifat semi polar dan mampu mencari sebagian besar kandungan kimia dari biji kakao. Selain itu, etanol memiliki viskositas yang cukup baik. Dengan konsistensi tersebut, etanol merupakan pelarut yang relatif tidak toksik. Etanol 96 % yang bersifat semi polar dipilih untuk mencari zat aktif yang bersifat semi polar juga yang dalam hal ini adalah fenolat dari biji kakao (Pedriclli, 2001).
Pengocokan dengan menggunakan mesin kocok agitasi 250 rpm selama 2 jam bertujuan untuk melarutkan bubuk biji kakao dengan pelarut dimana pada pengocokkan ini terjadi tumbukan antara partikel pereaksi sehingga mempercepat laju reaksi pengekstrakkan fenolat dari biji kakao. Menurut Abdullah (1982), pengocokan selama 2 jam dengan 250 rpm dapat melarutkan senyawa fenolat pada biji kakao.
Selanjutrnya, larutan tersebut disaring untuk diambil filtratnya. Filtrate ini
adalah ekstrak dari fenolat. Pada kulit ari biji kakao berwarna coklat muda dengan
volume ekstraksinya 55 mL dan pada daging biji kakao berwarna merah anggur dengan volume ekstraksinya 46 mL. Kemudian ekstrak fenolat dipanaskan untuk menguapkan etanol. Ekstrak fenolat ditambahkan dengan indikator metil orange (MO) agar warna larutan menjadi kuning. Warna kuning ini menandakan bahwa ekstrak tersebut bersifat asam. Namun pada daging biji kakao warnanya bukan kuning melainkan berwarna merah bata, hal ini mungkin karena kurangnya ketelitian saat penambahan bahan-bahan. Selanjutnya ditambahkan asam fosfat 1 : 9 sampai terbentuk warna merah jingga dari hasil percobaan hanya kulit ari biji kakao yang berwarna merah jingga yang menandakan larutan tersebut positif mengandung senyawa fenolat. Untuk meningkatkan nilai Ph larutanm maka ditambahkan  larutan NH4OH. Dari perlakuan tersebut diperoleh larutan berwarna kuning pucat, ini berarti bahwa larutan tersebut positif mengandung senyawa fenolat. Dari tabel grafik kurva baku yang di dapat dapat di simpulkan bahwa absorben dan kosentrasi dari larutan berbanding lurus.
Selanjutnya mengukur absorbansi dari ekstrak fenolat yang diperoleh dengan menggunakan spektronik 20 pada panjang gelombang 460 nm dengan etanol sebagai blanko. Etanol digunakan sebagai larutan blanko karena pelarut yang digunakan untuk mengekstrak daging dan kulit ari biji kakao yaitu etanol. Prinsip  dari  alat spektronik   20   yaitu   alat   ini   akan   mengukur   absorbansi   dari   larutan   yang berwarna. Akan tetapi untuk daging biji kakao tidak dapat langsung di lakukan pengukuran   di   sebabkan   warna   larutannya   terlalu   pekat   sehingga   harus melakukan   pengenceran   terlebih   dahulu, karena   jika   terlalu   pekat   spektronik   20   tidak   dapat   membacaabsorbansi cahaya yang di lewatkan pada larutan sebab cahaya tidak dapatmenembus larutan yang memiliki tingkat kepekatan warna yang cukup tinggi. Menurut Houghton (1998), metode spektrofotometri  merupakan metode yang digunakan untuk mengukur absorbansi dengan cara melewatkan cahaya dengan panjang gelombang tertentu pada suatu obyek kaca atau kuarsa yang disebut kuvet. Sebagian dari cahaya tersebut akan diserap dan sisanya akan dilewatkan. Nilai absorbansi dari cahaya yang dilewatkan akan sebanding dengan konsentrasi larutan di dalam kuvet. Dari pengukuran yang dilakukan diperoleh nilai absorbansi pada kilit ari biji kakao sebesar 1,370 A dan pada daging biji kakao sebesar 1,927 A. Berdasarkan perhitungan yang dilakukan, Kadar fenolat yang diperoleh pada kulit ari biji kakao yaitu 31,3671% sedangkan kadar fenolat pada daging biji kakao yaitu 12,5406%. Menurut Wulandari (2011) bahwa kadar fenolat pada kulit ari biji kakao adalah 1,49%. Dari hasil yang diperoleh dapat dikatakan adanya perbedaan dengan literatur hal ini dikarenakan bedanya jumlah sampel yang digunakan.






BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan percobaan di atas dapat disumpulkan :
1.   Isolasi fenolat dari biji kakao dilakukan menggunakan metode maserasi dengan etanol sebagai pelarut.
2.   Hasil kadar fenolat didapatkan secara berturut-turut yaitu 31,3671% dan 12,5406%.
5.1. Saran
Sebaiknya alat dan bahan dilengkapi lagi sehingga dapat mengerjakan dengan tepat dan lebih akurat.










DAFTAR PUSTAKA
Abdullah. (1982). Budidaya Tembakau. Jakarta. Yasaguna.
Cairns D. (2009). Inti Sari Farmasi Edisi Kedua. Puspita sari. Jakarta. Erlangga.
Hart.Harold.1983.Kimia Organik Suatu Kuliah Singkat.Erlangga. Jakarta.
Houghton, P.J. dan A. Raman. (1998). Laboratory Handbook for the Fractination of Natural Extracts. London. Chapman & Hall.
Pedriclli. Weisburger, J. (2001). Chemopreventive Effects of Cocoa Polyphenols on Chronic Disease. Eksperimental Biology and Medicine.
Poedjiwidodo. (1996).Pengolahan Cokelat. Departemen Teknologi Hasil Pertanian. Bogor. IPB-Press.
Sarker. Shriner, R. L. Fuson, R. C., Curtin, D. Y., Morrill, T. C. (2005). Qualitative Identification of Organic Compounds, 6th ed., pp, Wiley. New York.
Spillane. (1995). Kadar Fenilat Biji Kakao. Palu. Universitas Tadulako.
Sudarmadji, S., Haryono, B. (1996). Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Yogyakarta. Liberty.
Susanto. (1994). Kajian Kesesuaian Mutu Kakao Rakyat Sulawesi Selatan
Dengan SNI 01-2323-2002. Jakarta. Badan Standarisasi Nasional Pusat Penelitian dan Pengembangan Standarisasi.
Wahyudi. Lamuela-Raventos, R. M., Ramero-Perez, A. L., Andres-Lacueva, C. And Tornero, A. (2008). Health Effects of Cocoa Flavonoids, Food Scince and Technology International.
Wahyuni, Sri. (2011). Diktat Petunjuk Praktikum Kimia Fisik. Semarang. Jurusan Kimia. FMIPA UNES

Wulandari, S, A. (2011). Ekstraksi dan analisis kandungan fenolat ekstraksi Etanol kulit biji kakao (Theobroma cacao L). Palu. FMIPA UNTAD.

No comments:

Post a Comment